·
SOLUSIO
PLASENTA
Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasi
normalnya sebelum janin lahir, apabila
terjadi pada kehamilan di atas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram.
Menurut Derajat Pelepasan Plasenta:
1. Solusio plasenta totalis, plasenta terlepas
seluruhnya.
2. Solusio plasenta partialis, plasenta terlepas
sebagian.
3. Ruptura sinus
marginalis, sebagian kecil pinggir plasenta yang terlepas.
Menurut Gejala Pelepasanya :
1. Ringan : perdarahan <100-200 cc,uterus tidak
tegang, belum ada tanda renjatan, janin hidup,pelepasan plasenta <1/6 bagian
permukaan,kadar fibrinogen plasma >150 mg%
2. Sedang : Perdarahan lebih 200 cc, uterus
tegang, terdapat tanda pre renjatan, gawat janin atau janin telah mati,
pelepasan plasenta 1/4-2/3 bagian permukaan, kadar fibrinogen plasma 120-150
mg%.
3. Berat : Uterus tegang dan
berkontraksi tetanik, terdapat tanda renjatan, janin mati, pelepasan plasenta dapat terjadi lebih 2/3
bagian atau keseluruhan.
Beberapa faktor yang menjadi
Predisposisi di antaranya :
1.
Faktor Kardio-reno-vaskuler
2.
Faktor trauma
3.
Faktor faritas ibu
4.
Faktor usia ibu
5.
Faktor leiomioma uteri
6.
Faktor penggunaan kokain
7.
Faktor kebiasaan merokok
8.
Faktor riwayat solusio plasenta sebelumnya
9.
Pengaruh lain seperti :Anemia, malmutrisi,dll.
Gambaran
Klinis diantaranya :
1. Solusio plasenta ringan
Solusio plasenta ringan ini disebut
juga ruptura sinus marginalis, dimana terdapat pelepasan sebagian
kecil plasenta yang tidak berdarah banyak.
2. Solusio
plasenta sedang
Dalam hal ini plasenta terlepas
lebih dari 1/4 bagian, tetapi belum 2/3 luas permukaan Tanda dan gejala
dapat timbul perlahan-lahan seperti solusio plasenta ringan, tetapi dapat juga
secara mendadak dengan gejala sakit perut terus menerus, yang tidak lama
kemudian disusul dengan perdarahan pervaginam.
3. Solusio plasenta berat
Plasenta telah terlepas lebih dari 2/3 permukaannnya.
Terjadi sangat tiba-tiba. Biasanya ibu
papan dan sangat nyeri.
Komplikasi diantaranya :
1.
Syok
Perdarahan
2.
Gagal Ginjal
3.
Kelainan
Pembekuan Darah
4.
Apoplexi uteroplacenta (Uterus couvelaire)
Terapi di antaranya :
1) Solusio plasenta ringan
Bila usia kehamilan kurang dari 36 minggu dan bila ada perbaikan (perdarahan berhenti,
perut tidak sakit, uterus tidak tegang, janin hidup) dengan tirah baring dan
observasi ketat, kemudian tunggu persalinan spontan. (2)
Bila ada perburukan (perdarahan
berlangsung terus, gejala solusio plasenta makin jelas, pada pemantauan dengan
USG daerah solusio plasenta bertambah luas), maka kehamilan harus segera diakhiri. Bila janin hidup, lakukan seksio sesaria,
bila janin mati lakukan amniotomi disusul infus oksitosin untuk
mempercepat persalinan
2) Solusio plasenta sedang dan berat (2)
Apabila tanda dan gejala klinis
solusio plasenta jelas ditemukan, penanganan di rumah sakit meliputi transfusi
darah, amniotomi, infus oksitosin dan jika perlu seksio sesaria
Apabila diagnosis
solusio plasenta dapat ditegakkan berarti perdarahan telah terjadi
sekurang-kurangnya 1000 ml. Maka transfusi darah harus segera diberikan.
Amniotomi akan merangsang persalinan dan mengurangi tekanan intrauterin.
Dengan melakukan persalinan secepatnya dan transfusi darah dapat mencegah kelainan pembekuan
darah. Persalinan diharapkan terjadi dalam 6 jam sejak berlangsungnya solusio
plasenta. Tetapi jika tidak memungkinkan, walaupun sudah dilakukan amniotomi
dan infus oksitosin, maka satu-satunya cara melakukan persalinan adalah seksio sesaria
Apoplexi uteroplacenta
tidak merupakan indikasi histerektomi. Tetapi jika perdarahan tidak dapat
dikendalikan setelah dilakukan seksio sesaria maka histerektomi perlu dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar